Menuju Revolusi Komunikasi Desa

 

Begawan Komunikasi Marshall McLuhan pernah memprediksi bahwa perkembangan teknologiĀ  informasi akan membawa revolusi komunikasi pada umat manusia. Kebutuhan akan informasi yang serba cepat, tepat dan akurat menuntut manusia membuat teknologi informasi dan komunikasi yang jauh berbeda dengan sebelumnya.

Revolusi komunikasi itu dimulai dengan terciptanya ruang virtual (cyber) yang berbasis pada jaringan internet. Revolusi komunikasi ini akan mempengaruhi budaya dan kebudayaan komunikasi bagi umat manusia ke depannya.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi, tidak hanya terjadi di wilayah kota, akan tetapi juga telah merambah pada wilayah desa. Hal ini dapat dilihat dengan sudah maraknya penggunaan gawai smartphone, laptop dan komputer yang sudah umum dimiliki oleh masyarakat desa. Indikasi tersebut menunjukkan arah perubahan pola komunikasi di desa yang mengikuti arah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Proses perubahan pola komunikasi informasi di desa, menurut Iskandar Alisjahbana, terjadi dalam enam tahap yaitu, tahap pertama adalah pengumpulan informasi dan pengalaman baru dalam berkomunikasi, kedua, penyimpanan informasi dan pengalaman yang didapat, ketiga adalah pengolahan informasi dan pengalaman, keempat pemilahan informasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa, kelima penyebarluasan informasi kepada masyarakat luas, dan keenam adalag adalah umpan balik (feedback) dari informasi yang disebarluaskan dalam rangka perbaikan dalam berkomunikasi.

Cepatnya perkembangan teknologi informasi, dapat dimanfaatkan dalam rangka pembangunan desa yang lebih maju dan adaptif terhadap kemajuan jaman saat ini. Revolusi komunikasi di desa menjadi penting dan tidak bisa dihindari. Maka, desa harus bersiap dengan terjadinya revolusi komunikasi di desa, sehingga ke depan tidak gagap dalam menghadapinya. Revousi komunikasi harus dapat dimanfaatkan demi kepentingan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa.

Dengan revolusi komunikasi, desa akan semakin open dan connected dengan dunia yang lebih luas. Hal tersebut, akan mengubah wajah desa yang tertutup dan bersifat komunitas kecil terbatas, menjadi desa yang dapat terhubung dengan berbagai tempat di seluruh dunia serta terbuka bagi setiap orang dari berbagai tempat di dunia.

Desa dan warganya tak lagi menjadi seperti “katak dalam tempurung”. Dengan adanya revolusi komunikasi di desa akan dapat menghubungkan desa terpencil dengan kota-kota besar di dunia.

Meskipun harus diakui, akan banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam membangun desa berkemajuan yang berbasis pada revolusi komunikasi desa tersebut.

Misalnya saja, masih minimnya infrastruktur pendukung teknologi informasi di seluruh wilayah Indonesia dengan masih belum terjangkaunya jaringan internet di daerah-daerah yang berada di luar Pulau Jawa, ketimpangan akses informasi di desa dan kota sehingga berpengaruh pada kualitas Sumber Daya Manusia desa, serta cara berpikir kita tentang desa yang masih belum terbuka dan beranggapan bahwa desa hanyalah tempat bercocok tanam dan tempat pelarian dari kota saja.

Akan tetapi, kita juga harus dapat melihat arah perkembangan jaman dan kecenderungan perubahan yang terjadi. Pembacaan yang tepat terhadap perkembangan tersebut akan memudahkan kita dalam hal perencanaan dan pelaksanaan pembangunan (desa) yang adaptif dan responsif. Pembacaan yang tepat juga akan membantu dalam pelaksanaan pembangunan desa secara efektif dan efisien.

Dengan demikian, pembangunan desa akan lebih produktif dan bukan malah menjadi kontra produktif bagi peningkatakan kesejahteraan masyarakat desa.

Indikator pembangunan desa yang produktif yaitu dengan terkelolanya potensi yang ada di desa secara maksimal, baik potensi ekonomi, sosial, politik dan budaya sehingga mampu meningkatkan partisipasi masyarakat desa, kualitas sumber daya manusia dan meningkatkan kesejahteraan warga desa.

Revolusi komunikasi yang terjadi di desa, tidak akan berdampak pada kemajuan dan kesejahteraan warga desa apabila tidak didukung oleh pemerintah — dari tataran pusat sampai desa — karena pemerintah yang mempunyai kewenangan dalam membuat kebijakan pembangunan.

Tanpa dukungan pemerintah, masyarakat desa hanya akan menjadi konsumen dalam perkembangan teknologi informasi saat ini. Dukungan pemerintah tersebut dapat berupa, penyediaan infrastruktur teknologi informasi yang menjangkau semua wilayah di Indonesia, perencanaan penganggaran dana desa yang tepat guna serta mendorong program-program yang dapat meningkatkan inovasi dan kreativtas bagi warga desa.

Pelu diingat, bahwa setiap kebijakan pemerintah tersebut harus memberikan partisipasi aktif kepada msyarakat desa sehingga masyarakat desa bukan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek pembangunan.

Sinergisitas antara pemerintah dan masyarakat desa mutlak dibutuhkan untuk menjaga revolusi komunikasi desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa untuk dapat mencapai kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa. SEMOGA!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: