Paradigma Baru Pembangunan Desa

Gardadesa.com Jakarta – Menurut Kepala Lembaga Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor ( IPB ) Ernan Rustiadi, Indonesia perlu memiliki paradigma baru dalam pembangunan perdesaan guna membangkitkan pertumbuhan ekonomi.

Kepala Lembaga Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) Ernan Rustiadi pada webinar 17th IPB Strategic Talk yang bertajuk

“Kita harus memiliki paradigma baru pembangunan perdesaan. Jika dengan cara yang seperti biasa sekarang, perdesaan tidak pernah optimal membangun Indonesia,” kata Ernan pada acara 17th IPB Strategic Talk yang bertajuk “Membangkitkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dari Perdesaan”, Senin (1/2/2021).

Selama ini, kata Ernan, terdapat sejumlah stigma terhadap kawasan perdesaan. Misalnya, desa sering kali dikaitkan dengan angka kemiskinan yang tinggi, ketidakmampuan, serta produktivitas dan nilai tukar yang rendah.

“Di satu sisi, di era Covid-19, yang menjadi penyelamat pertumbuhan adalah pertanian dan perdesaan. Tetapi, desa sebenarnya juga terancam juga. Kita harus melakukan stimulus dan adanya paradigma baru,” kata Ernan.

Tim peneliti IPB kemudian merumuskan sejumlah rekomendasi paradigma baru pembangunan perdesaan. Di antaranya adalah pemberian stimulus konsumtif dan produktif. Stimulus produktif ini bertujuan memperbaiki sistem produksi pada industri berbasis pertanian di perdesaan. Sedangkan stimulus konsumtif akan memperkuat daya beli masyarakat dan memutarkan perekonomian.

“Kita perlu mengoptimasi peran Badan Usaha Milik Desa ( BumDes ) dan menghidupkan lagi konsep agropolitan,” ungkap Ernan.

Rekomendasi lainnya termasuk paradigma perdesaan baru dengan reformasi dari wilayah perdesaan yang berbasis pada sektor produksi pertanian menjadi berfokus pada kegiatan kewirausahaan atau ekstraksi sumber daya alam yang berbasis pada teknologi.

“Kita perlu juga adanya konsep e-logistics, serta mereformulasi dana desa dan alokasi dana desa,” kata Ernan.

IPB turut merekomendasikan pentingnya data desa presisi sebagai landasan perencanaan pembangunan. Misalnya, dengan memanfaatkan teknologi drone dan digital.

“Kita juga perlu membangun community investment area yang bukan hanya fokus pada ekonomi, tetapi juga sosial. Demikian pula dengan mendorong sinergi dan koordinasi antar stakeholder,” pungkas Ernan.

Pendekatan Berbasis Tipologi

Ernan turut menggarisbawahi pentingnya pendekatan berbasis tipologi dalam pembangunan desa. Menurut Ernan, desa sebenarnya memiliki potensi sebagai pusat pertumbuhan.

“Potensi ini sudah terlihat dari bagaimana beberapa desa memiliki PAD yang lebih besar dari PAD kabupaten. Tetapi, kita perlu upah cara pandang kita melihat desa,” kata Ernan.

Berdasarkan jenis penghasilan utama, sebanyak 86,98% desa di Indonesia mengandalkan pada sektor pertanian. Sedangkan, sisanya mengandalkan sektor lainnya di antaranya perdagangan dan rumah makan, serta pertambangan dan penggalian.

“Baru di pulau Jawa, tipologi desa-desa non-pertanian mulai bermunculan seperti desa wisata, industri, kerajinan. Sudah hampir 30% desa yang ciri utamanya bukan pertanian. Di luar Jawa, hampir 90% lebih masih dominan di pertanian,” ungkap Ernan.

“Memang betul desa dominan pertanian, tetapi jangan lupakan desa juga berpotensi di luar pertanian. Ini harus ditipologikan karena membutuhkan pendekatan yang berbeda,” katanya.

“Perlu juga adanya pandangan baru bahwa desa juga membutuhkan investasi dan SDM yang berkualitas,” tutup Ernan. (Beritasatu.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: