Peristiwa

Susu Kedelai Diduga Basi dalam Program Makan Gratis di Rengel, Warga Desak Evaluasi Total

98
×

Susu Kedelai Diduga Basi dalam Program Makan Gratis di Rengel, Warga Desak Evaluasi Total

Sebarkan artikel ini

gardadeesa.com, Tuban — Program Makan Gratis yang seharusnya menjadi simbol kepedulian terhadap gizi generasi penerus bangsa justru berubah menjadi sumber kepanikan. Insiden serius terjadi pada Kamis, 26 Februari 2026, di salah satu sekolah di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.

Dapur penyedia yang dikenal sebagai Dapur MBG kini menjadi sorotan tajam publik. Pasalnya, susu kedelai yang dibagikan kepada para siswa diduga kuat telah basi dan tidak layak konsumsi.

Menu yang diterima siswa berupa piscok (pisang cokelat), telur rebus, dan sebotol susu kedelai. Awalnya anak-anak menyambut program tersebut dengan penuh kegembiraan. Namun suasana berubah drastis saat botol susu dibuka.

Baca Juga :  Siswa SMPN Montong Tuban Diduga Alami Keracunan Usai Makan Ikan Pindang MBG

Bukan aroma segar yang tercium, melainkan bau asam menyengat yang langsung menimbulkan kecurigaan. Cairan susu disebut telah berubah dan menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang jelas.

“Susu kedelainya baunya sangat asam dan tidak wajar. Ini sangat berbahaya kalau sampai diminum anak-anak,” ujar salah satu saksi yang berada di lokasi.

Insiden ini memunculkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin makanan dan minuman untuk anak sekolah bisa lolos distribusi tanpa pengecekan mutu yang ketat? Apakah ada kelalaian fatal dalam penyimpanan? Ataukah standar operasional prosedur (SOP) memang tidak dijalankan sebagaimana mestinya?

Baca Juga :  Publik Mulai Bertanya: Bagaimana Perkembangan Dugaan Keterlibatan Pemilik PT dan Empat Perangkat Desa dalam Kasus Kades Tingkis

Susu kedelai yang basi berpotensi mengandung bakteri patogen penyebab keracunan makanan, yang dapat memicu mual, muntah, diare berat, hingga dehidrasi. Dalam kasus tertentu, kondisi ini bisa membahayakan keselamatan anak-anak.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak pengelola dapur terkait dugaan kelalaian tersebut. Minimnya transparansi ini justru semakin memicu kecurigaan publik.

Kepala Desa Mundir menyatakan kekecewaannya atas kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa penyedia makanan harus lebih berhati-hati, terlebih yang mengonsumsi adalah anak-anak sekolah.

“Kami sangat menyayangkan. Jika memang menggunakan tenaga ahli gizi, pengawasan kualitas makanan dan minuman harus benar-benar ketat. Jangan sampai program yang baik justru menjadi bencana,” tegasnya.

Baca Juga :  Limbah Diduga Dibuang ke Laut, Warga Tambakboyo–Bancar Geram: DLH Tuban Bungkam!

Warga kini mendesak evaluasi total terhadap pelaksanaan Program Makan Gratis di wilayah Tuban. Mereka juga meminta aparat, termasuk Satgas TNI dan Polri, turun tangan mengusut dugaan kelalaian ini secara menyeluruh.

Program yang seharusnya memberi harapan tidak boleh berubah menjadi ancaman kesehatan. Jika pengawasan lemah dan tanggung jawab diabaikan, yang menjadi taruhan bukan sekadar reputasi, melainkan keselamatan generasi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *